SELAMAT DATANG di Blog Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kab. Polewali Mandar TANGGAP-TANGKAS-TANGGUH

Berita Terkini

BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH Alamat Jl. Pameran Kelurahan Darma, Kecamatan Polewali, Kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat
Loading...

Minggu, 14 April 2019

Gempabumi Tektonik M 6,9 Mengguncang Kabupaten Morowali dan Kepulauan Banggai, Berpotensi Tsunami

Siaran Pers #BMKG:

Gempa tektonik telah terjadi pada hari Jum’at, 12 April 2019 pukul 18.40.51 WIB wilayah Kabupaten Morowali dan Kepulauan Banggai dengan pusat gempa terletak pada koordinat 1,89 LS dan 122,57 BT di teluk Tolo, pada jarak 82 km Barat Daya Kepulauan Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah, pada kedalaman 17 km. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempabumi ini memiliki kekuatan M=6,9 dan dari hasil pemodelan gempa ini berpotensi tsunami, yang kemudian dilakukan pemutakhiran menjadi M=6,8.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas sesar lokal. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi ini, dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan mendatar (strike slip).

Setelah dilakukan monitoring terhadap muka air laut melalui pengamatan Tide Gauge di lokasi Kendari (Sulawesi Tenggara) dan Taliabu (Maluku Utara), tidak terjadi kenaikan muka air laut yang signifikan, serta bedasarkan pengecekan kondisi lapangan oleh BMKG dan BPBD setempat, maka pada pukul 19.47 WIB (20.47 WITA) Peringatan Dini Tsunami dinyatakan BERAKHIR.

Dampak gempabumi berdasarkan laporan masyarakat dirasakan di wilayah Poso, Buol, Morowali, Banggai dan Palu dengan intensitas guncangan skala IV MMI; di Kolaka Utara dan Toli-toli dengan intensitas guncangan skala III-IV MMI; di Sumalata, Kotamobagu, Palopo, Kolaka, Makassar dan Kep. Konawe dengan intensitas guncangan III MMI; di Gorontalo dan Kendari II-III MMI; di Manado, Pinrang dan Konawe II MMI. Saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempabumi tersebut.

Hingga pukul 21.00 WIB, Hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya aktivitas gempabumi susulan (aftershock) sejumlah 20 gempabumi dengan kekuatan paling besar M=5,6 sampai M=3,4. Kepada masyarakat diimbau agar tetap tenang, dapat kembali ketempat tinggal masing-masing, namun tetap waspada dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi (Instagram/Twitter @infoBMKG), website (www.bmkg.go.id), atau melalui Mobile Apps (iOS dan Android "Info BMKG").

Jakarta, 12 April 2019

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG
RAHMAT TRIYONO, S.T., Dipl.Seis., M.Sc.
 http://www.bmkg.go.id

Senin, 11 Maret 2019

Kegiatan Musrembang Kecamatan Tahun Anggaran 2020

Kecamatan Mapilli 



Kecamatan Campalagian 




Y


Kegiatan Musrembang Hari ini tanggal 11 Maret 2019 yang di laksanakan 3 Kecamatan di Wilayah Kabupaten Polewali Mandar.
BPBD Kab Polewali Mandar melaksanakan Musrembang Kecamatan Tahun Anggaran 2020 yang di Wakili Sekertaris BPBD , Kepala Bidang Kepala Seksi dan Staf.
Adapun Kecamatan di wilayah Kabupaten Polewali Mandar tersebut antara lain :
*- Kecamatan Allu :*
- H. Arifin Hania S.Pd, MM
- A. Mandawari, S.IP
- A. Jumiati, S.IP

*- Kecamatan Campalagian*
- H. Anwar Kamaruddin, S.Sos
- A. Muh. Yusuf, S.Sos
- Asdar M, S.IP

*- Kecamatan Mapilli*
- H. Muh. Siri, S.Sos M.Si
- Yusni Jaya, S.Sos
- Rahmansyah, S.IP



Sabtu, 09 Maret 2019

Awal Musim Kemarau 2019 Mulai di Bulan April


Jakarta, 6 Maret 2019 / Berdasarkan pantauan BMKG, hasil pemantauan perkembangan musim hujan hingga akhir Februari 2019 menunjukkan bahwa seluruh wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan. Hal ini disampaikan Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal dihadapan wartawan pada saat jumpa pers Prakiraan Musim Kemarau 2019 di Media Center BMKG hari ini.
"El-Nino kategori Lemah, berlangsung di Samudera Pasifik Ekuator, Samudera Hindia dalam kondisi Netral. El-Nino kategori lemah ini ditandai oleh kondisi lebih panasnya suhu muka laut di wilayah Pasifik ekuator bagian tengah berada pada kisaran 0.5 - 1oC di atas normalnya sejak Oktober 2018 diikuti oleh melemahnya Sirkulasi Walker (Angin Pasat Samudera Pasifik Tropis) dari kondisi normalnya. Kondisi El-Nino lemah diprediksi bertahan hingga Juni - Juli 2019 dan berpeluang melemah hanya 50% setelah pertengahan tahun" tambah Herizal.
Beliau juga menambahkan bahwa tidak terdapat indikasi kejadian anomali iklim Samudera Hindia, IOD (Indian Ocean Dipole) dan diprediksi tetap dalam status netral hingga pertengahan tahun 2019.
Aktifnya El-Nino Lemah diperkirakan tidak akan berdampak signifikan terhadap Sirkulasi Monsun. Kajian historis pengaruh El-Nino Lemah terhadap curah hujan menunjukkan dampak yang tidak nyata terhadap sebaran curah hujan di Indonesia. Apalagi pada saat periode Maret-April-Mei, yang mana pada umumnya dampak El-Nino tidak seragam di Indonesia, sehingga dimungkinkan pula tidak memengaruhi peralihan musim hujan menuju musim kemarau.
Sementara itu, terkait awal musim kemarau 2019, Deputi Bidang Klimatologi BMKG juga menyampaikan bahwa datangnya musim kemarau berkaitan erat dengan peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi angin Timuran (Monsun Australia). Peralihan peredaran angin monsun itu akan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara pada Maret 2019, lalu wilayah Bali dan Jawa pada April 2019, kemudian sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi pada Mei 2019 dan akhirnya Monsun Australia sepenuhnya dominan di wilayah Indonesia pada bulan Juni hingga Agustus 2019.
Mengingat El-Nino Lemah dan IOD tidak akan banyak memengaruhi peralihan musim kali ini, maka kondisi musim kemarau 2019 nanti diperkirakan akan lebih banyak dipengaruhi oleh kekuatan Monsun Australia dan gangguan cuaca berupa gelombang atmosfer tropis skala sub-musiman yaitu MJO (madden julian oscillation).
Dari total 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 79 ZOM (23.1%) diprediksi akan mengawali musim kemarau pada bulan April 2019 yaitu di sebagian wilayah Nusa Tenggara, Bali dan Jawa. Wilayah-wilayah yang memasuki musim kemarau pada bulan Mei sebanyak 99 ZOM (28.9%) meliputi sebagian Bali, Jawa, Sumatera dan sebagian Sulawesi. Sementara itu 96 ZOM (28.1%) di Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku dan Papua akan masuk awal musim kemaraunya di bulan Juni 2019.
Jika dibandingkan terhadap rerata klimatologis Curah Hujan Musim Kemarau (periode 1981-2010), kondisi Musim Kemarau 2019 diperkirakan NORMAL atau SAMA dengan rerata klimatologisnya pada 214 ZOM (62.6%), 82 ZOM (24%) akan mengalami kondisi kemarau BAWAH NORMAL (curah hujan musim kemarau lebih rendah dari rerata klimatologis) dan 46 ZOM (13.4%) akan mengalami kondisi ATAS NORMAL (lebih tinggi dari curah hujan reratanya).
BMKG mengingatkan masyarakat bahwa perlu diwaspadai wilayah-wilayah yang akan mengalami musim kemarau lebih awal yaitu di sebagian wilayah NTT, NTB, Jawa Timur bagian Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat bagian tengah dan Selatan, Sebagian Lampung, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan dan Riau serta Kalimantan Timur dan Selatan.
Kewaspadaan dan antisipasi dini juga diperlukan untuk wilayah-wilayah yang diprediksi akan mengalami musim kemarau lebih kering dari normalnya yaitu di wilayah NTT, NTB, Bali, Jawa bagian Selatan dan Utara, Sebagian Sumatera, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Merauke.
Secara umum Puncak Musim Kemarau 2019 diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus - September 2019. Imbauan disampaikan kepada Institusi terkait, Pemerintah Daerah dan seluruh masyarakat untuk waspada dan bersiap terhadap kemungkinan dampak musim kemarau terutama wilayah yang rentan terhadap bencana kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, dan ketersediaan air bersih.
Waspada Curah Hujan Tinggi Sepekan ke Depan
Dilain pihak, Deputi Bidang Meteorologi, Mulyono Rahadi Prabowo menyampaikan imbauan terkait cuaca sepekan ke depan. Beliau menyatakan bahwa potensi curah hujan tinggi masih akan terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Sedangkan terkait tinggi gelombang, beliau mengingatkan kapal-kapal yang melewati perairan barat Sumatera, wilayah Samudera Hindia di Selatan Jawa Tengah dan Jawa Timur hingga wilayah perairan Laut Arafuru bagian Barat untuk meningkatkan kewaspadaan karena tinggi gelombang diperkirakan antara 2.5 meter - 4 meter.
Deputi Bidang Meteorologi juga menambahkan bahwa mengingat periode bulan Maret mulai memasuki periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, sehingga potensi hujan cukup rendah terutama di wilayah Pantai Timur Sumatera, utamanya wilayah Riau dan sekitarnya, maka perlu diwaspadai adanya peningkatan potensi kemudahan kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut.
Berdasarkan analisis Fire Danger Rating System (FDRS) tanggal 05 Maret 2019, dapat disampaikan, potensi kemudahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan masih cukup tinggi di wilayah Sumatera Utara bagian Timur, Riau bagian Timur, Kep. Riau, Jambi bagian Timur, Kep. Bangka Belitung, Kalimantan Utara, Sulawesi bagian Utara dan Maluku Utara.